Profile Nurdin Halid

Posted on

Biodata dan Profil Singkat

Biodata H.A.M Nurdin Halid

Nama         :  Drs. H.A.M. Nurdin Halid

Kelahiran  :  Watampone, 17 Nopember 1958

Agama       :  Islam

Status        :  Menikah

RIWAYAT PENDIDIKAN

1964-1970        SD Negeri Apala watampone

1971-1973        SMEP Negeri Watampone

1974-1976        SMEA Negeri Watampone

1977-1982        IKIP Makassar (Jurusan Ekonomi perusahaan)

KARIR ORGANISASI

1983-1985        Pengurus KNPI Tingkat 1 Sulsel

1984-1987        Pengurus KNPI Tingkat 1 Sulsel

1985-1989        Pengurus AMPI Tingkat 1 Sulsel

1988-1991        Pengurus Golkar Tingkat 1 Sulsel

1988-1993        Pengurus Golkar kabupaten sidrap

1989-1994        Pengurus AMPI Tingkat 1 Sulsel

1992                   Pengurus ASPEMTI pusat

1993-1994        Pengurus persatuan penggilingan padi (perbadi) Sulawesi

1994-1998        Pengurus KADIN sulsel

1996-1998        Pengurus Golkar tingkat 1 sulsel

1995-1996        Meneger PSM Makassar

1995-1996        Pengurus REI sulsel

1996-1998        Anggota majelis pemuda indonesia

1994-1999        Ketua DPD I AMPI sulsel, komisaris daerah PSSI sulsel

1997-2002        DPD Pemuda Panca Marga

1999-2004        Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia

2009-2014        Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia

2009-2014        President Asean Cooperative Organization (ACO)

2009-2014       Ketua DPP Partai Golkar Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi

2014-2015        Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Organisasi

2012-2016        Vice President International Cooperative Alliance (ICA) Asia Pasifik

2016-….            Anggota Komite Eksekutif ICA Asia Pasifik

2016-….             Ketua Harian Partai Golkar

2016-….             Anggota Dewan Pembina PBSI

RIWAYAT KERJA

1983-1985        Meneger PPK Kabupaten Gowa

1985-1987        Meneger PPK kabupaten sidrap

1987-1988        Kepala Perwakilan Puskud Hasanuddin Sulsel Kabupaten Pinrang

1988-1991        Kepala Perwakilan Puskud Hasanuddin Sulsel Kabupaten Sidrap

1992-1997        Dirut Puskud Hassanuddin Sulsel

1998                  Komisaris PT Yudhistira Garo Batara Sakti

1998                   Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesian (KDI)

1998                   Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa (Inkud)

1999-2004        Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PSSI

1999-2004        Anggota DPR/MPR RI 1998-1999 Dan 1999-2004

2005-2011       Komite Tetap Asian Football Confederation

2003-2011       Ketua Umum PSSI

PRESTASI DI BIDANG OLAHRAGA

PSM Makassar

  • Mengantar PSM Makassar ke final Liga Indonesia musim 1995/1996
  • Mengantar PSM Makassar ke babak semifinal Liga Indonesia musim 1996/1997
  • Mengantar PSM Makassar juara Liga Indonesia musim 2000/2001
  • Mengantar PSM Makassar juara Liga Indonesia musim 1999/2000
  • Meloloskan PSM Makassar ke babak 8 besar Liga Champions Asia
  • Sukses meloloskan Kota Makassar sebagai tuan rumah babak 8 Besar Liga Champions Asia.
  • Mengantar PSM merebut gelar juara Piala Ho Chi Minh City, Piala Pardede, Piala Jenderal M Yusuf (tahun 2000), runner-up Piala Bangabandhu, Bangladesh (1996)

PSSI

  • Mengantar tim nasional Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia 2000
  • Mengantar tim nasional Indonesia juara Piala Kemerdekaan 2001
  • Mengantar tim nasional Indonesia meraih gelar juara Piala Ho Chi Minh City 2001
  • Mengantar tim nasional Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia 2004
  • Mengantar timnas sepakbola menjuarai Piala Kemerdekaan 2006
  • Mengantar tim nasional Futsal menjuarai Piala ASEAN (AFF Cup) 2009
  • Meloloskan Indonesia menjadi tuan rumah putaran final Piala Asia 2007
  • Mengantar timnas sepakbola ke final Piala AFF tahun 2010

PENGHARGAAN

  1. ASEAN Development Award tahun 1996
  2. Bakti Koperasi tahun 1997
  3. Penghargaan Medali AFC (AFC Medal) tahun 2007

 

Profil Singkat  H.A.M NURDIN HALID

Menduniakan Indonesia

Nurdin Halid mengusung visi dan cita-cita besar  mengangkat Indonesia ke percaturan global. Ia memiliki reputasi sebagai tokoh berskala nasional dan internasional, khususnya di koperasi, politik, dan sepakbola.

Nurdin Halid adalah salah satu tokoh revolusioner yang berpikir global, berjiwa Indonesia sejati, dan bertindak lokal. Kiprahnya di dunia yang dicintainya – koperasi, sepakbola, dan politik – selalu dimulai dari bawah menuju puncak. Kuncinya? “Bekerja cerdas, iklas, total, dan loyal,” tukas NH.

 

Jatuh Cinta pada Koperasi

Sejarah panjang karir Nurdin Halid praktis diisi penuh dengan kisah ekonomi rakyat, koperasi. Berkat kedua orangtuanya, NH sudah jatuh cinta pada koperasi sejak kecil. Kisah NH bahkan identik dengan kisah sejarah koperasi modern sejak awal era Reformasi tahun 1998 tatkala ia terpilih  sebagai ketua Umum Induk KUD (Inkud), kemudian Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

“Darah yang mengalir dalam diri saya adalah darah koperasi.Saya sudah jatuh cinta pada koperasi sejak SD ketika saya menyaksikan sendiri bagaimana setiap pertengahan bulan ayah dan ibu  saya memenuhi kebutuhan dari koperasi. Saya begitu kagum akan koperasi karena beberapa kali saya disuruh Bapa saya ambil sembako di Koperasi,” NH berkisah.

Sebelum menggapai puncak, sepakterjang NH di dunia koperasi dirintis mulai dari bawah ketika menjadi manajer penyuluh koperasi di Kabupaten Gowa tahun 1983, lalu tahun 1985 pindah ke Sidrap, sebelum diangkat menjadi kepala perwakilan Puskud Hasanudin di Kabupaten Pinrang tahun 1987.

Sukses di level kabupaten, NH ditarik ke Puskud Hasanuddin di Kota Makassar tahun 1992. Hanya dalam dua tahun, NH mendapat kepercayaan menjadi Direktur Utama Puskud Hassanuddin. Di tangan NH, wajah Puskud Hasanuddin berubah total menjadi ‘perusahaan koperasi’ berlabel konglomerat. Beragam usaha digarap seperti membeli dan menjual produk petani, usaha jasa taksi, ekspor impor, hingga perkulakan. Hasilnya, hanya dalam dua tahun, Puskud Hasanuddin meraup keuntungan Rp 17 miliar.  “Koperasi modern harus mengelola bisnis seperti perusahaan asalkan memberi manfaat nyata bagi para anggotanya,” tegas NH.

Jalan untuk membesarkan koperasi di NKRI terbuka bagi NH ketika berhasil menduduki kursi Ketua Umun Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) di Jakarta. Seperti waktu di Puskud Hasanuddin, NH  pun mengubah paradigma bisnis Inkud untuk mengurus bisnis-bisnis besar, terutama menjadi distributor pupuk, minyak goreng, beras, dan gula.

“Terobosan ini penting untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok rakyat. Kekuatan Inkud untuk mendistribusikan kebutuhan pokok minyak goreng, beras, dan gula karena memiliki jaringan hingga akar rumput di seluruh Indonesia,” demikian NH.

Namun, ketiga  terobosan tersebut justru menjerat NH pada kasus hukum akibat konspirasi para pengusaha yang terganggu kepentingan bisnis mereka dengan elit politik tertentu. “Itu risiko perjuangan untuk orang banyak,” kata NH.

Jatuh dan bangkit lagi. Itulah NH. Langkahnya di koperasi tak bisa dihentikan ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum Dekopin. NH bahkan mendapat kepercayaan untuk menduduki kursi vice-president International Cooperative Alliance (ICA) Asia Pasifik sejak 2010 sampai sekarang. Sebagai Ketua Umum Dekopin, NH menggulirkan Visi 2045 Koperasi Pilar Negara.

“Saya memiliki sebuah keyakinan bahwa bahwa Koperasi adalah ‘pilar’ bagi negara dan bangsa Indonesia. Sebab, koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga alat paling efektif untuk mewujutkan cita-cita Negara Kesejahteraan, menghadirkan keadilan,  melestarikan semangat kekeluargaan dan budaya gotong-royong serta menjamin lestarinya ekosistem NKRI,” tandas NH.

Pionir Revolusi Sepakbola

Kemajuan sepakbola Indonesia di awal abad ke-21 ini tak bisa dilepaskan dari sosok Nurdin Halid. Ia adalah pionir sekaligus peletak dasar sepakbola Indonesia modern dengan  melakukan lompatan-lompatan besar.

Saat menangani PSM Makassar musim 1995/1996, NH melakukan sejumlah terobosan berani seperti menggaet tiga pemain bintang dari luar Sulsel dan tiga pemain asing asal Amerika Latin (kedua terobosan itu menjadi tabu bagi klub Perserikatan seperti PSM). Lalu, memberi gaji dan bonus besar kepada pemain, pelatih, dan tim ofisial.

Hasilnya, pada musim pertama di tangan NH, PSM menembus babak semifinal. Musim berikutnya, melaju hingga final. Puncaknya, ketika PSM merebut gelar jawara Liga Indonesia tahun 2001 dan menembus babak 8 Besar Liga Champions, termasuk meraih gelar juara internasional Ho Chi Minh Cup. NH bahkan berani mengajukan Kota Makassar menjadi tuan rumah babak 8 besar Liga Champions Asia, meski harus menghabiskan dana miliaran rupiah untuk akomodasi tim tamu dan mempercantik Stadion Mattoangin.

Reputasi sebagai tokoh sentral kisah sukses PSM mengantar NH ke kursi nomor satu PSSI. Langkah pertama NH ialah merumuskan Visi PSSI 2020, yaitu modernisasi sepakbola Indonesia untuk mewujutkan industri sepakbola dan berdaya saing di pentas global. Untuk mewujutkan hal itu, NH melakukan sejumlah kebijakan strategis.

Pertama, membentuk pengurus cabang (pengcab) untuk memperpanjang rentang kendali PSSI sekaligus sukses meyakinkan FIFA tentang eksistensi Pengprov PSSI sebagai ‘induk’ Pengcab dan pemilik hak suara PSSI. Kedua, mempercepat pengesahan Statuta PSSI sesuai FIFA Standard sebagai langkah reformasi FIFA memodernisasi anggotanya.

Ketiga, untuk membangun industri sepakbola, NH membentuk PT Liga Indonesia sebagai pengelola Liga Profesional sesuai persyaratan FIFA melalui AFC untuk bisa mendapat hak berlaga Liga Champions Asia dan Piala Dunia Antarklub.

Keempat, mempercepat proses profesionalisme klub sepakbola Indonesia (klub Liga Super dan klub Divisi Utama) dengan mengikuti lima persyaratan klub profesional yang tercantum dalam FIFA-AFC League Standard, yaitu aspek legal, infrastruktur, SDM, Youth Development, dan Finansial.

Kelima, mengingat klub amatir sangat banyak di Indonesia, NH melalui Badan Liga Amatir menambah strata Liga Amatir menjadi 3, yaitu Divisi I, II, dan III.

Keenam, membuat sejarah baru: Indonesia untuk pertama kali menjadi tuan rumah Piala Asia tahun 2007 setelah berhasil meyakinkan Presiden AFC Moh. Hammam dan mendapat dukungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. PSSI meraih sukses sebagai tuan rumah dan mendapat pujian dari AFC dan FIFA.

Kesembilan, sukses besar menggelar Piala Asia 2007 mendorong NH membuat lompatan lebih dahsyat: mencalonkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia (PD) 2022 dengan mengusung tema ‘Green World Cup, Save Our Plannet’. Gagasan besar PSSI mendapat dukungan penuh pemerintah melalui Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Menpora Adhyaksa Dault. Dan, FIFA maupun AFC memuji keberanian PSSI di bawah komando NH untuk bersaing dengan negara sepakbola maju seperti Inggris, AS, Rusia, Australia, Jepang, Korsel, Qatar, Belanda, dan Portugal.

Sayang, sikap pemerintah berubah 360 derajat setelah Menpora dijabat oleh Andi Alfian Mallarangeng. Banyak pihak yang menyesalkan keputusan Pemerintahan SBY yang membatalkan pencalonan Indonesia karena peluang Indonesia sangat terbuka. Faktanya kemudian, Qatar yang terpilih menjadi tuan rumah PD 2022 dan Rusia sebagai tuan rumah PD 2018.

 “Sepakbola adalah aset sangat berharga bagi Bangsa Indonesia. Sepakbola menghidupkan ekonomi daerah dan nasional, memperkuat kohesi sosial yang multikultural, dan memperkokoh rasa nasionalisme. Sepakbola juga merupakan alat diplomasi budaya yang efektif di kancah dunia,” ujar NH.

 

Politik untuk Mensejahterakan

NH terjun di dunia politik pada tahun 1988 dengan sebuah kesadaran akan hakikat politik, yaitu merebut kekuasaan untuk bisa memperoleh otoritas mengelola dan memerintah sumber daya bagi kepentingan orang banyak. Bukan sekadar “politics is who gets what, when, and how” (siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana) dari ahli politik Harold Dwight Laswell yang sangat populer  sampai hari ini.

Mengikuti pandangan filsuf Yunani Aristoteles dan Plato, NH berpandangan bahwa “siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana” untuk suatu pemerintahan negara berisi pilihan-pilihan menciptakan kebajikan, yaitu order, stability, justice, dan peace. “Kekuasaan politik harus berujung pada keadilan dan kesejahteraan orang banyak. Tanpa itu, politik tak bermakna apa-apa,” ujar NH.

Sempat mengasah diri dalam ormas KNPI dan AMPI, NH kemudian meniti karir politiknya di bawah payung Golkar tahun 1988. Keberhasilannya di perkoperasian, diikuti kiprahnya di sepakbola sebagai manajer PSM Makassar, NH kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 1997. Meski sempat diwarnai pasang surut akibat konspirasi lawan yang iri dan atau takut terhadap kiprah NH, kepiawaian dalam berorganisasi dan kepemimpinan mengantar NH meraih sejumlah posisi penting di Partai berlambang pohon beringin itu.

Pada era kepemimpinan Aburizal Bakrie, NH dipercaya menjadi ketua DPP Bidang Pemilu wilayah Sulawesi, kemudian naik ke posisi wakil ketua umum Bidang Organisasi. Ketika Partai Golkar terbelit konflik berkepanjangan tahun 2014-2016 lalu, NH memainkan peran kunci untuk ‘menyelamatkan’ Partai Golkar dari keterpurukan yang jauh lebih dalam. Sebagai seorang lobbist yang ulung, NH piawai berperan sebagai ‘jembatan’ antara dua kubu yang berselisih maupun dengan pihak pemerintah.

Berkat peran kuncinya itu, NH kemudian diberi mandat sebagai Ketua Panitia Pengarah Munas ‘rekonsiliasi’ Partai Golkar. Keberhasilannya memimpin Munas mendapat apresiasi tinggi oleh berbagai pihak sehingga  Ketua Umum Partai Golkar terpilih Setya Novanto mempercayai NH sebagai Ketua Harian Partai Golkar. DPP Partai Golkar bahkan kemudian merestui desakan sejumlah tokoh masyarakat agar NH maju dalam Pilgub Sulsel 2018.

Mahkota Perjuangan

“Try not to become a man of success but rather to become a man of value.” Atau berusahlah bukan untuk mengejar sukses, tetapi menjadi seorang yang berarti dan bernilai bagi orang lain. Kutipan prinsip filsuf Albert Einstein ini dapat menjelaskan mengapa hasil karya dan banyak temuan Albert Einstein selalu mempengaruhi dan memberi ilham di bidang peradaban, ekonomi, politik, filsafat, sains, dan teknologi sejak abad 20 sampai awal abad 21 ini.

Dasar-dasar dari prinsip kerja Albert Einstein itu juga dapat ditemukan sepanjang pergumulan karir NH memperkuat ekonomi rakyat lewat koperasi, memperkokoh nasionalisme lewat sepakbola, dan menghadirkan kesejahteraan rakyat lewat demokrasi politik. Bagi NH, prestasi harus dimulai dari bekerja untuk orang banyak. “Prinsip hidup dan bekerja untuk orang banyak ditanamkan orangtua saya sejak masa kanak-kanak,” NH berujar.

Menurut Nurdin Halid , pendidikan ‘perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan’ (Treat others as you want them to treat you) adalah rahasia dari kemampuannya selama ini untuk dapat memimpin dan bekerjasama dengan orang lain dari semua level pada banyak bidang seperti ormas, politik, ekonomi, koperasi, sampai olahraga sepakbola.

Di sisi lain, NH juga menyadari bahwa perjuangannya untuk kepentingan orang banyak mengandung risiko, apalagi dunia yang digelutinya kerap ‘mengganggu’ bisnis pengusaha dan menjadi incaran lawan politik, bahkan pemegang kekuasaan. Langkah NH membantu petani cengkeh di Sulsel dan sukses melobi pemerintah menjadikan Inkud dan KDI sebagai distributor pupuk, minyak goreng, beras, dan gula justru mengantar NH ke penjara akibat konspirasi para pesaing bisnis dan lawan politik.

Demikian juga kepiawaian NH melambungkan sepakbola Indonesia ke kancah Asia dan dunia justru dinilai ‘berbahaya’ oleh pemegang kekuasaan. Sebagai tokoh elit Partai Golkar, sukses NH dinilai oleh lawan politik akan menguntungkan partai berlambang pohon beringin itu. NH pun ‘dipaksa’ turun dari kursi Ketua Umum PSSI melalui berbagai intervensi, intimidasi, dan konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan struktur negara (birokrasi, polisi, dan tentara).

Meski beberapa kali menjadi korban konspirasi kubu lawan, NH tetap survifal. Ia seperti menghayati pepatah masyarakat Sulsel: tidak ada pelaut ulung yang lahir di laut tenang. Dan, itu diakui oleh Hamid Awaludin: “Kehidupan Nurdin Halid berwarna-warni. Ia acapkali hidup di tengah gelombang. Ia seolah berselancar. Di tempo lain, ia terombang ke atas, di kesempatan berikut ia terseret ke bawah. Untung ia punya daya tahan.”

Lebih dari itu, NH meyakini bahwa para pencipta peradaban (bilders) dan titan yang melahirkan perubahan dan menciptakan peradaban-peradaban baru di dunia selalu merupakan the man of value—tokoh-tokoh yang peduli, berjuang, dan berkorbang untuk orang banyak. Melalui koperasi, sepakbola, dan politik, NH berjuang, bekerja keras, dan survifal untuk orang banyak, meski untuk itu ia kerap menghadapi terjangan badai ‘lawan’.

Mahkota (crown) dari the man of value seperti Soekarno (pejuang kemerdekaan), Nelson Mandela (pejuang kesetaraan antara kulit putih dan kulit hitam di Afrika Selatan), Mustafa Kemal Ataturk (pejuang kemerdekaan, kesetaraan, kesejahteraan Turki) hingga Nurdin Halid (pejuang keadilan ekonomi melalui koperasi-koperasi serta motor penggerak nasionalisme melalui sepakbola) ialah ketika mereka akhirnya berkorban (sacrifice) sampai dipenjara untuk nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Penjara (fisik) menjadi mahkota atau puncak dari perjuangan dan pengorbanan mereka.Di saat bersamaan, penjara (fisik) seringkali gagal memadamkan visi, misi, impian, semangat, perjuangan, dan harapan serta keyakinan (beliefs) mereka. Penjara fisik bukanlah belenggu tetapi bagian dari proses asah pergulatan dan perjuangan mereka. Seperti halnya kemerdekaan, kesetaraan, perdamaian, begitu pula kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial-ekonomi membutuhkan pahlawan (hero) seperti Nurdin Halid.

Politisi Berjiwa Koperasi

Pejuang dan Pemikir Ekonomi Konstitusi

Pioner Sepakbola Modern

Mahkota Perjuangan